02 Desember 2007

PERAWAT SETENGAH DOKTER

Membaca judul diatas, masyarakat umum atau bahkan anda sendiri beranggapan bahwa perawat sudah memiliki kemampuan mendekati dokter, ada yang berpikir perawat sebagai asisten dokter, atau perawat yang sudah mau naik peringkat jadi dokter atau bahkan ada yang tidak mengerti perbedaan perawat dengan dokter. Kita telah mendeklarasikan profesi kita sejajar dengan profesi lain seperti halnya dokter, apoteker dll.
Tetapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang masih memanggil kita dengan sebutan "dokter". Sebagian perawat mungkin senang dipanggil seperti itu, bahkan (dibeberapa Balai Pengobatan Umum)ada juga yang malah mengaku-ngaku sebagai dokter, sehingga muncullah istilah setengah dokter.
Inilah salah satu alasan mengapa profesi perawat tidak kunjung muncul kepermukaan. Perawat yang pintar, cerdas, cepat tanggap kalau dipanggil dengan sebutan dokter malah senang. Seharusnya kita memperkenalkan diri sebagai diri sendiri, sehingga masyarakat mengetahui ternyata perawat berbeda dengan dokter dan sejajar dengan profesi lainnya.
Perawat sekarang sudah jauh lebih canggih, pintar, dan dilengkapi dengan skill yang tinggi. Sudah saatnya kita menghargai diri kita secara layak.

5 komentar:

wastu mengatakan...

Jangankan di rumah sakit, saya sendiri yang lagi belajar akupuntur di sebuah klinik akupuntur tetap dipanggil dokter.

Persepsi masyarakat untuk pengobat memang dokter, kalau yang merawat namanya suster. Mengapa masyarakat masih belum tahu kalau perawat laki-laki tetaplah perawat? Karena susah kalau memanggil dengan 3 suku kata "pe-ra-wat", apalagi 1 suku kata "ners", kan lebih enak "dok-ter" atau "man-tri". Jadi satu-satunya cara, ya sosialisasikan profesi perawat dan pelayanan keperawatan yang sebenarnya. Tidak malu menyebukan sebagai Ners Hendi ketika berkenalan, atau menuliskannya di kartu nama.

Dalam hal pengakuan pelayanan,saya punya pengalaman hidup yang mungkin dapat dianalogikan. Pelayanan itu ibarat Zat adiktif, dapat membuat orang ketagihan. Contohnya, ketika saya tinggal di komplek perumahan baru. Mulanya pedagang sayur keliling hanya satu-dua orang saja yang beli. Lama kelamamaan jadi satu gang terus satu RT. Suatu ketika dia tidak berjualan. Satu RT panik dan akhirnya, pada tidak sarapan tadi. Nah Jika kita dapat berperan seperti pedagang tadi, pasti pelayanan "keperawatan" akan dikenal. Masalanya, siapa yang mau berkorban, membuka pelayanan keperawatan dan siap merugi untuk jangka waktu yang belum pasti?

Itu menurut saya.

Sobur Setiaman mengatakan...

Paman saya yg jadi perawat di kampung, tetap dia menjadi kebanggaan baik di lingkungan kerja maupun lingkungan sosial. Beliau bangga di panggil Mantri Suntik karena pekerjaananya perawat di Puskesmas yg suka mengobati pasien walaupun yg di obati sakit sakit ringan, kalo menemukan penyakit berat beliau menyarankan ke pasien dan keluarganya pergi ke dokter. Walaupun suka mengobati penyakit ringan sesuai dengan juklak puskesmas beliau lebih senang di panggil pak mantri daripada di panggil pak dokter karena bukan dokter. Kecuali perawat di kota kota barangkali fenomena itu bisa aja terjadi" senang bila dipanggil dokter daripada di panggil perawat", paling juga masyarakat memanggilnya "dasar perawat judes", .. "dasar suster ketus" dll. Kalo di LN para perawat selalu memperkenalkan diri bila ada sesuatu hal dengan pasien.. yes I am Nurse Balelo, may I help you?.. Job title "Nurse" bukan Ners menjadi midlle class level kalo di luar negeri.

diskusiperawat mengatakan...

kang, di buku yang diterbitkan ini “Reflections on Doctors” (2008) si Nurse-nya lebih senang bila dipanggil Nurse.
Katanya, "karena saya pintar makanya saya tidak menjadi dokter" :)

salam kenal,
www.diskusiperawat.co.cc

Stetoskop mengatakan...

dapet buku refleksi dokter dari mana ni pak?

ake mengatakan...

aku juga bangga menjadi perawat,karena pekerjaan perawat lebih mulia,karena 24 jam kami mendampingi pasien,dan dengan adanya kami pasien bisa lekas pulih.