Tampilkan postingan dengan label Belajar EKG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar EKG. Tampilkan semua postingan

09 Januari 2008

TEKNIK PENYADAPAN EKG

Pencatatan EKG secara internasional dilakukan dengan standar :

1. Kecepatan laju kertas 25 mm/detik atau 50 mm/detik

2. Ukuran galvanometer setinggi 0,5 mv, 1mv, dan 2mv. Pencetakan daya ukur galvanometer dinamakan kalibrasi. Kalibrasi dilakukan tiga kali berturut-turut sebelum dan sesudah perekaman EKG. Tiap perubahan daya ukur harus dicatat.

Sadapan

Apabila electrode dari sebuah alat EKG dipasang pada tempat-tempat tertentu pada tubuh, maka terjadilah satu sadapan (Lead), yaitu :

1. Sadapan Bipolar (sadapan standar)

Ditandai dengan angka romawi I,II, dan III.

I. Elektrode yang positif dihubungkan dengan lengan kiri dan electrode negatif dengan lengan kanan.

II. Elektrode yang positif dihubungkan dengan kaki kiri dan yang negatif dengan lengan kanan.

III. Elektrode yang positif dihubungkan dengan kaki kiri dan yang negatif dengan lengan kiri.

2. Sadapan Unipolar Ekstremitas

Augmented Ekstremitas Lead à aVR, aVL, aVF

3. Sadapan Unipolar Prekordial

Sadapan Unipolar Prekordial atau dada ini diberikan tanda dengan huruf V (voltage) dan disertai angka dibelakangnya yang menunjukan lokasi diatas prekordium. Posisi electrode menurut American Heart Association adalah :

V1 : Sela iga ke 4 pada garis sternal kanan.

V2 : Sela iga ke 4 pada garis sternal kiri.

V3 : Diantara V2 dan V4.

V4 : Ruang iga ke 5 pada garis tengah klavikula kiri.

V5 : Garis aksila depan sejajar dengan V4.

V6 : Garis aksila tengah sejajar dengan V4.

Persiapan alat

1. Mesin EKG dilengkapi dengan 3 kabel :

a. Kabel untuk listrik

b. Kabel untuk bumi

c. Kabel untuk penderita terdiri dari 10 Kabel ( 4 kabel ekstremitas dan 6 kabel dada)

2. Plat elektrode yaitu :

a. Empat buah Elektode ekstremitas.

b. Enam buah elektroda isap.

3. Kassa/kapas alkohol

4. Jelly

5. Kertas EKG

6. Tissue

Penempatan electrode

1. Elektrode ekstremitas atas dipasang dipergelangan tangan kanan dan kiri searah telapak tangan

2. Elektrode ekstremitas bawah dapasang dipergelangan kaki kanan dan kiri sebelah dalam

3. Posisi pada pergelangan tangan bukanlah mutlak, bila diperlukan dapat dipasang sampai di bahu kanan dan kiri dan di pangkal paha kanan dan kiri. Kemudian kabel-kabel ekstremitas dihubungkan :

- Merah à Lengan kanan

- Kuning à Lengan kiri

- Hijau à Kaki kiri

- Hitam à Kaki kanan

4. Elektode dada harus terpasang seperti yang telah disebut diatas.

5. Hidupkan mesin EKG dan tunggu sebentar untuk pemanasan

6. Periksa kembali standardisasi dari EKG.

7. Pindahkan Lead Selector, dibuat pencatatan EKG berturut-turut sbb: Sadapan I, II, III, aVR, aVL, aVF, V1, V2, V3, V4, V5, dan V6.

8. Selesai pencatatan pindahkan kembali Lead Selector.

9. Matikan mesin EKG

10. Rapikan penderita dan alat-alat.

11. Catat dipinggir kiri atas kertas EKG:

- Nama

- Umur/Jenis kelamin

- Tanggal

- Jam

12. Catat nama yang merekam di kiri bawah kertas

13. Setiap sadapan diberi tanda yang sesuai.

Perhatian

1. Sebelum melakukan penyadapan periksa dahulu tegangan mesin EKG.

2. Alat selalu pada posisi Stop bila tidak digunakan.

3. Kalibrasi dapat memakai ½ mV bila amplitudo terlalu besar dan 2 mV bila terlalu kecil.

4. Dalam melakukan penyadapan EKG, perawat harus menghadap penderita.

08 Januari 2008

RANGKUMAN EKG DASAR

1. Irama jantung

- Lihat di lead II

- Lihat gel. P : (+); (-); (tidak ada)

- Lihat komplek QRS (sempit atau lebar)

  1. Irama Sinus

- Gelombang P defleksi (+) positif/cembung keatas.

- QRS sempit <= 3 kotak kecil

- Frekwensi normal 60-100 x/m, disebut sinur ritme

- Bila HR <> 100 x/m disebut sinus takikardi

  1. Irama Junction

- Gel P defleksi (-) negatif/cekung kebawah

- QRS sempit <= 3 kotak kecil

- Frekwensi 40-60 x/m

  1. Irama Ventrikel

- Gelombang P Tidak ada/lurus

- QRS lebar > 3 kotak kecil

- Frekwensi 20-40 x/m


2. Menghitung frekwensi (x/menit)

- Bagi 1500 dengan jarak R-R (kotak kecil) atau

- Bagi 300 dengan jarak R-R (kotak sedang)

- Hitung gel R dalam 6 detik kalikan dengan 10.

3. Menentukan adanya gangguan konduksi

A. Blok AV

Hitung panjang interval PR, dimana panjang PR lebih dari 0,2 detik atau 5 kotak kecil

1) AV blok derajat I

- Interval PR memanjang > 5 kotak kecil secara konstan.

- Durasi/panjang Interval PR satu dengan interval PR berikutnya sama

- Setiap P diikuti Kompleks QRS

2) AV blok derajat II Mobitz type I (Wenckebach)

- Durasi/panjang Interval PR satu ke Interval PR berikutnya makin panjang.

- Ada gelombang P yang tidak diikuti Kompleks QRS.

3) AV blok derajat II Mobitz type II

- Durasi/panjang Interval PR normal.

- Ada gelombang P yang tidak diikuti Kompleks QRS.

4) AV blok derajat III/ Total AV Blok (TAVB)

- Gelombang P lebih banyak daripada Kompleks QRS hampir dua kali lipat

- Gelombang P tidak diikuti oleh Kompleks QRS.

- Kompleks QRS terbentuk dari depolarisasi Ventrikel


B.
Blok Cabang Berkas/ Bundle Branch Block (BBB)

- Identifikasi adanya bentuk komplek QRS seperti huruf M dengan lebar lebih dari 0,12 detik.

- Tentukan pada sadapan berapa Komplek QRS seperti hurup M tersebut

- Bila Kompleks QRS yang menyerupai huruf M ada di V1-V3 diidentifikasi sebagai RBBB, Bila terdapat di lead V4-V6 disebut LBBB


4. Menentukan adanya ganguan perfusi

- Identifikasi adanya T inversi, ST depresi dan elevasi, dan Q pathologi.

- Q patologi bermakna kematian jaringan otot jantung/old infark

- ST Elevasi dan depresi bermakna infark akut

- T inverted artinya iskemi


5. Menentukan adanya hipertropi

- Jumlahkan gel S di V1 dengan R di V5/V6, BILA > 35 KK menggambarkan LVH

- Identifikasi perbandingan antara S dengan R di V1